DALAM NERAKA KEMATIAN SELALU MENDATANGI ORANG KAFIR DARI SEGALA PENJURU, TAPI DIA TIDAK PERNAH MATI

Allah swt sudah menetapkan bahwa nyawa tidak akan keluar dari tubuh orang-orang kafir pada Hari Kiamat. Agar siksaan yang mereka rasakan menjadi kekal abadi. Siksaan itu tidak pernah berhenti diberikan dan mereka tidak pernah dibunuh sehingga meninggal dan beristirahat.

Di dunia… ketika kita tertimpa penyakit, tubuh kita cedera, patah, dan lain sebagainya, atau terkena kelemahan total dan usia yang sangat tua, maka termasuk rahmat Allah swt kepada kita Dia menetapkan adanya kematian bagi kita agar kita terbebas dari siksaan, kepedihan, usia tua, kelemahan total, dan penyakit tersebut.

Adapun dalam Jahannam, meski kulit orang-orang kafir sudah terbakar habis dan tubuh-tubuh mereka sudah hangus hingga api menjalar dan membakar hati mereka, namun Allah swt tidak memerintahkan kepada nyawa orang-orang kafir para pelaku dosa tersebut untuk keluar dari tubuh mereka. Demikian itu agar siksaan dan rasa sakit terus-menerus mereka rasakan tanpa henti dan istirahat sedikit pun.

Allah swt berfirman:

{وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ (15) مِنْ وَرَائِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِنْ مَاءٍ صَدِيدٍ (16) يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ} [إبراهيم : 15 – 17]

 “Mereka (orang-orang beriman) memohon kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala. Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah.   Diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (QS. Ibrahim: 15-17)

Terbakar, kelaparan, sangat kehausan, terburai dan terputusnya usus-usus, ini semua termasuk sebab-sebab datangnya kematian di dunia. Tetapi sebab-sebab seperti ini dalam Neraka Jahannam berhenti sama sekali.

Sebab-sebab kematian itu mendatangi setiap orang kafir dari berbagai penjuru, baik dari atas maupun dari bawah, tapi ia sama sekali tidak bisa mati. Nyawa senantiasa menempel pada tubuh orang kafir meski tubuhnya sudah terbakar habis. Meski kulitnya sudah terbakar, kulit itu dikembalikan seperti sedia kala, kemudian dibakar lagi, dan dikembalikan seperti sedia kala lagi, hingga tanpa penghabisan.

Nyawa senantiasa menetap dalam jasad dan tidak pernah keluar darinya. Ini adalah kehendak dan kekuasaan Allah swt yang Dia menghendaki hal itu terjadi pada orang-orang munafiq, kafir, dan musyrik. Karena dunia adalah kampung sebab-sebab sementara Akhirat adalah kampung segala bentuk keajaiban.

Para mufassirin berkata tentang firman Allah swt:

{وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ} [إبراهيم : 17]

 “Datanglah maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (QS. Ibrahim: 15-17)

Maksudnya: Kematian dengan segala sebabnya yang mengitari orang kafir, datang kepadanya dari berbagai penjuru tapi ia tidak pernah mati. Agar siksaan yang diberikan kepadanya benar-benar sempurna. Dan di hadapannya terus ada siksaan yang lebih pedih dan lebih berat dari sebelumnya.

Yang sesuai dengan makna ayat di atas adalah firman Allah swt yang berbunyi:

{ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى } [الأعلى : 13]

“Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (QS. Al-A`la: 13)

Maksudnya: Ia tidak pernah mati sehingga terbebas dari siksaan dan tidak pula merasakan kehidupan yang nyaman, tetapi ia senantiasa hidup dalam siksaan dan kepedihan.

DR. Wahbah Az-Zuhailiy dalam At-Tafsir Al-Munir berkata: Siapapun yang masuk ke dalam An-Naar Al-Kubraa (api yang sangat besar yaitu Neraka), ia pasti kekal merasakan siksaannya. Ia tidak pernah mati sehingga beristirahat dari siksaan yang menimpa dirinya. Juga tidak menemui kehidupan yang nyaman dan tenteram yang menjadikannya bahagia dan senang di dalamnya. Sebagaimana firman Allah swt:

{لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ} [فاطر : 36]

“Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fathir: 36)

Diambil dari: Misteri kedahsyatan Neraka:

TERMASUK AZAB PALING PEDIH, KETIKA AIR YANG SANGAT PANAS DISIRAMKAN DI ATAS KEPALA

Sesungguhnya siksaan dalam Neraka Jahannam, adalah siksaan yang sangat pedih, meski pada orang paling ringan siksanya sekalipun. Sebagimana sudah kami jelaskan pada pembahasan-pembahasan yang lalu.

Allah SWT telah menyediakan bagi penduduk Neraka, beraneka ragam siksaan sangat pedih dan dashyat, yang mengungguli segala jenis siksaan lainnya. Neraka dan siksaan di dalamnya bertingkat-tingkat. Demikian pula para penduduk yang menempatinya. Mereka bertingkat-tingkat pula.

Di antara mereka ada orang munafiq yang tempatnya pada bagian paling dasar Neraka. Ada orang yang sangat sombong dan sewenang-wenang. Dan ada orang yang sangat memusuhi Allah SWT serta banyak mengerjakan dosa.

Sedangkan siksa yang berbentuk siraman air sangat panas yang ditumpahkan di atas kepala, itu adalah siksaan yang membuat kepala menjadi mendidih, meleleh, dan hancur saat air sangat panas itu ditumpahkan di atas kepala mereka. Ketika proses itu terjadi, kepala menjadi lebur dan hancur karena daya panas yang sangat tinggi dari air tersebut. Di samping itu, siksaan lain juga datang kepada mereka dari berbagai penjuru dan mereka tidak dalam kondisi mati. Kemudian mereka dikembalikan seperti sedia kala, lalu kembali disirami air panas hingga meleleh dan hancur seluruh isi perutnya, dan mereka tidak dalam kondisi mati.

Allah SWT berfirman:

{هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ (19) يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ (20) وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ (21) كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (22)} [الحج: 19 – 22]

 “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api Neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari Neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): ‘Rasailah azab yang membakar ini’.” (QS. Al-Hajj: 19-22)

Ikrimah berkata (هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ): ”Itu adalah Surga dan Neraka. Neraka berkata: Jadikan saya khusus untuk hukuman. Dan Surga berkata: Jadikan saya khusus untuk rahmat.”

Sedangkan Mujahid dan Atha` berkata: ”Yang dimaksudkan pada ayat ini adalah orang-orang kafir dengan orang-orang beriman. Dan itu mencakup segala perkataan semuanya. Termasuk yang terjadi pada perang Badar maupun peperangan lainnya. Karena orang-orang beriman hendak membela agama Allah, sedangkan orang-orang kafir hendak memadamkan cahaya iman, memusnahkan kebenaran, dan menampakkan kebatilan.”

Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir dan itu pilihan yang cukup bagus. Karena itulah Allah berfirman:
(فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ) Yakni: Dirancang bagi orang-orang kafir itu, potongan-potongan baju dari api Neraka.

Said bin Jubair berkata: ”Air mendidih itu dari tembaga. Karena tembaga unsur yang paling panas dibanding lainnya ketika dibakar.”

(يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ) yakni: Ketika Al-Hamim disiramkan di atas kepala mereka. Al-Hamim adalah air mendidih yang daya panasnya sangat memuncak. Said bin Jubair berkata: ”Itu adalah tembaga yang dicairkan. Ia melelehkan segala yang ada dalam perut mereka termasuk lemak dan usus-usus.”[1] Juga melelehkan kulit-kulit mereka.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi SAW beliau bersabda:

((إِنَّ الْحَمِيمَ لَيُصَبُّ عَلَى رُءُوسِهِمْ، فَيَنْفُذُ الْجُمْجُمَةَ حَتَّى يَخْلُصَ إِلَى جَوْفِهِ، فَيَسْلِتَ مَا فِى جَوْفِهِ، حَتَّى يَبْلُغَ قَدَمَيْهِ، وَهُوَ الصَّهْرُ، ثُمَّ يُعَادُ كَمَا كَانَ))

“Sesungguhnya air panas itu disiramkan di atas kepala mereka. Kemudian air itu menembus tengkorak dan terus masuk ke rongga tubuhnya. Maka hancurlah apa yang di dalam rongga tubuh itu hingga sampai kedua tumitnya. Dan inilah Ash-Shahr (yang disebutkan dalam ayat). Setelah itu ia dikembalikan seperti sedia kala.”[2]

Disebutkan dalam riwayat lain:

((يَأْتِيْهِ الْمَلَكُ يَحْمِلُ اْلإِنَاءَ بِكَلْبَتَيْنِ مِمَّا فِيْ حَرَارَتِهِ، فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْ وَجْهِهِ تَكَرَّهَهُ، قاَلَ: فَيَرْفَعُ مِقْمَعَةً مَعَهُ فَيَضْرِبُ بِهَا رَأْسَهُ، فَيَفْرُغُ دِمَاغُهُ، ثُمَّ يَفْرَغُ اْلإِناَءُ مِنْ دِمَاغِهِ فَيَصِلُ إِلَى جَوْفِهِ مِنْ دِمَاغِهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ))

“Malaikat datang kepadanya membawa bejana dengan dua catut besi karena panasnya yang terdapat dalam bejana tersebut. Ketika bejana didekatkan kepada wajahnya, ia berpaling darinya.” Rasulullah SAW bersabda: “Maka Malaikat itu mengangkat palu besi yang dibawanya kemudian dipukulkan kepada kepala orang kafir itu. Hingga kepalanya pecah. Kemudian bejana itu disiramkan ke dalam otaknya. Maka otak itu menembus ke dalam rongga tubuhnya. Ini adalah firman Allah SWT yang berbunyi: ‘Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)’.”

Sedangkan firman Allah SWT: (وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ). Dari Rasulullah r beliau bersabda:

((لَوْ أَنَّ مِقْمَعًا مِنْ حَدِيْدٍ وُضِعَ فِي اْلأَرْضِ، فَاجْتَمَعَ لَهُ الثَّقْلاَنِ مَا أَقَلُّوْهُ مِنَ اْلأَرْضِ)) [رواه أحمد عن أبي سعيد الخدري]

“Seandainya satu palu dari besi diletakkan di bumi kemudian seluruh jin dan manusia berkumpul untuk mengangkatnya, mereka tidak bisa mengangkatnya dari bumi.” (HR. Ahmad dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu)

Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

((لَوْ ضُرِبَ الْجَبَلُ بِمِقْمَعٍ مِنْ حَدِيْدٍ لَتَفَتَّتَ ثُمَّ عَادَ كَماَ كَانَ، وَلَوْ أَنَّ دَلْوًا مِنْ غَسَّاقٍ يُهْرَاقُ فِيْ الدُّنْيَا َلأَنْتَنَ أَهْلَ الدُّنْيَا))

“Seandainya gunung dipukul dengan palu dari besi, gunung itu pasti hancur lebur kemudian kembali seperti sedia kala. Dan seandainya satu ember air ghassaq ditumpahkan di dunia, niscaya membuat busuk seluruh penduduk dunia.”[3]

Tentang firman Allah SWT (وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ), Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma berkata:

“يَضْرِبُوْنَ بِهَا فَيَقَعُ كُلُّ عُضْوٍ عَلَى حِيَالِهِ فَيَدْعُوْنَ بِالثُّبُوْرِ”

“Para Malaikat memukul orang kafir itu dengan palu-palu besi maka berjatuhanlah setiap organ tubuhnya di sekelilingnya. Kemudian dia mendoa agar dibinasakan.”

Sedangkan firman Allah SWT: (كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا). Salman Al-Farisi Radhiyallahu anhu berkata: Api Neraka sangat hitam dan gelap. Kobaran dan baranya sama sekali tidak mengeluarkan sinar.” Kemudian ia membaca:

{كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا } [الحج: 22]

 “Setiap kali mereka hendak ke luar dari Neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.” (QS. Al-Hajj: 22)

Mengenai ayat ini Zaid bin Aslam berkata:

“بَلَغَنِيْ أَنَّ أَهْلَ النَّارِ لاَ يَتَنَفَّسُوْنَ بِرَاحَةٍ”

“Saya mendengar bahwa penduduk Neraka itu tidak bernafas dengan nyaman.”

Fudhail bin Iyadh berkata:

“وَاللهِ مَا طَمِعُوْا فِي الْخُرُوْجِ، إِنَّ اْلأَرْجُلَ لَمُقَيَّدَةٌ، وَإِنَّ اْلأَيْدِيَ لَمُوَثَّقَةٌ، وَلَكِنْ يَرْفَعُهُمْ لَهَبُهَا، وَتَرُدُّهُمْ مَقَامِعُهَا”

“Demi Allah mereka sama sekali tidak ingin keluar. Kaki mereka dibelenggu dan tangan mereka diikat kuat. Hanya saja mereka dibuat terangkat oleh kobaran api Neraka. Kemudian mereka dikembalikan (ke dasar Neraka) dengan palu-palu besi.”

Sedangkan firman Allah SWT (وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ) sama seperti firman Allah SWT yang berbunyi:

{وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ } [السجدة: 20]

 “Dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa Neraka yang dahulu kamu mendustakannya’.” (QS. As-Sajdah: 20)

Maksud perkataan ini: Sesungguhnya mereka dihinakan oleh siksaan baik lewat perkataan maupun perbuatan.[4]

Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Dzarr, ia pernah bersumpah bahwa ayat ini (هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ) turun pada Hamzah dan kedua musuhnya. Juga kepada Utbah dan kedua musuhnya pada saat mereka duel di medan perang Badar.[5]

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata:

((أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَجْثُو بَيْنَ يَدَىِ الرَّحْمَنِ لِلْخُصُومَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))

“Saya adalah orang pertama kali yang berlutut di hadapan Ar-Rahman untuk bermusuhan (dengan orang kafir) pada Hari Kiamat.”

Qais berkata: Terhadap mereka inilah, turun firman Allah  yang berbunyi (هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ). Qais berkata: Mereka adalah orang-orang yang berduel pada perang Badar. Yaitu: Ali, Hamzah, Ubaidah, Syaibah bin Rabi`ah, Utbah bin Rabi`ah, dan Walid bin Utbah.

Qatadah berkata pada firman Allah (هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ):

“اِخْتَصَمَ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَهْلُ الْكِتَابِ، فَقَالَ أَهْلُ الْكِتَابِ: نَبِيُّنَا قَبْلَ نَبِيِّكُمْ، وَكِتَابُنَا قَبْلَ كِتَابِكُمْ. فَنَحْنُ أَوْلَى بِاللهِ مِنْكُمْ. وَقَالَ الْمُسْلِمُوْنَ: كِتَابُنَا يَقْضِيْ عَلَى اْلكُتُبِ كُلِّهَا، وَنَبِيُّنَا خَاتَمُ اْلأَنْبِياَءِ، فَنَحْنُ أَوْلَى بِاللهِ مِنْكُمْ. فَأَفْلَجَ اللهُ اْلإِسْلاَمَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُ، وَأَنْزَلَ: { هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ }”

“Kaum Muslimin dan orang-orang ahlul kitab bertengkar. Orang-orang ahlul kitab berkata: ‘Nabi kami datang sebelum Nabi kalian. Kitab kami juga datang sebelum kitab kalian. Maka kami lebih berhak mendapat pertolongan Allah daripada kalian’. Kaum Muslimin menjawab: ‘Kitab kami memberi keputusan terhadap semua kitab yang ada. Dan Nabi kami penutup para Nabi. Karena itu kami lebih berhak mendapat pertolongan Allah daripada kalian’. Maka Allah memenangkan Islam atas setiap orang yang menentangnya. Dan turunlah firman Allah: ‘Inilah dua golongan yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka’.”

Mujahid berkata pada ayat ini: “Ini adalah perumpamaan orang kafir dan orang Mukmin yang bertengkar mengenai hari kebangkitan.”

Mujahid dan Atha` berkata pada ayat ini: “Mereka adalah orang-orang beriman dan orang-orang kafir.”

Allah berfirman:

{إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (45) كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (46) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (47) ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (48) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (49) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (50)} [الدخان: 43 – 50]

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) seperti kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang amat panas. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah Neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah! Sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia[6].  Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu selalu kamu meragu-ragukannya.” (QS. Ad-Dukhan: 43-50)

Ketika Allah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan adanya Hari Kiamat, Dia menyebutkan pula gambaran hari yang sangat sulit itu. Maka Dia menyebutkan ancaman bagi orang-orang kafir pada pertama kalinya, kemudian memberikan janji kebaikan kepada orang-orang yang berbakti untuk yang kedua kalinya. Agar tergabung antara At-Tarhib (pemberian ancaman) dan At-Targhib (pemberian motivasi). Dia pun berfirman:

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ (43) طَعَامُ الْأَثِيمِ (44)

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa.” (QS. Ad-Dukhan: 43-44)

Maksudnya: Sesungguhnya pohon sangat buruk ini, yaitu pohon Zaqqum yang tumbuh di dasar Jahim, adalah makanan setiap pelaku dosa, tiada makanan lain baginya. Abu Hayyan berkata: ”Al-Atsiim adalah sifat mubalaghah. Yaitu orang yang banyak berbuat dosa. Dan ditafsirkan dengan orang musyrik.”[7]

Sedangkan firman Allah (كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ): Yakni pohon itu karena sangat buruk dan menjijikkan, ketika manusia memakannya ia seperti kuningan meleleh yang panasnya tiada berakhir. Ia menghancurkan segala yang ada dalam perut.

(كَغَلْيِ الْحَمِيمِ) yakni: Seperti mendidihnya air yang sangat panas. Dalam tafsirnya Al-Qurthubi berkata: Pohon Zaqqum adalah pohon yang diciptakan Allah dalam Jahannam. Allah menyebutnya dengan pohon yang dilaknat. Jika penduduk Neraka merasa lapar, mereka berlindung di bawahnya dan memakan darinya. Sehingga pohon itu mendidih dalam perut-perut mereka seperti mendidihnya air yang sangat panas.

Allah menyerupakan yang masuk ke dalam perut mereka ini dengan Al-Muhli, yaitu kuningan yang meleleh. Sedangkan yang dimaksud dengan Al-Atsiim, adalah orang jahat yang banyak berbuat berdosa. Dia adalah Abu Jahal. Demikian itu karena ia berkata:

“يَعِدُنَا مُحَمَّدٌ أَنَّ فِيْ جَهَنَّمَ الزَّقُّوْمُ، وَإِنَّمَا هُوَ الثَّرِيْدُ بِالزُّبْدِ وَالتَّمْرِ.”

”Muhammad menjanjikan kepada kita bahwa kita dalam Jahannam akan memakan Zaqqum. Sesungguhnya itu adalah Tsarid[8] yang bercampur mentega dengan kurma.”[9]

Kemudian Abu Jahal mendatangkan mentega dan kurma dan berkata kepada kawan-kawannya: “Ayo! Nikmatilah zaqqum ini.” Ia melakukan itu untuk menghina dan menertawakan firman Allah. Karena itu Allah berfirman:

{خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ } [الدخان: 47]

“Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah Neraka Jahim.” (QS. Ad-Dukhan: 47)

Yakni pada Hari Kiamat nanti Allah akan berkata kepada Zabaniyah: “Ambillah orang penuh dosa yang terlaknat ini, lalu seret ia dari pita lehernya dengan sangat keras dan kasar ke tengah-tengah Neraka Jahim.”

(ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ) yakni: Kemudian siramkan di atas kepala orang jahat yang pendosa ini, siksaan dari Al-Hamim. Yaitu air mendidih yang puncak panasnya tiada berakhir.

(ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ): Dikatakan kepadanya perkataan ini sebagai penghinaan dan cemoohan baginya. Yaitu: “Rasakanlah siksaan ini karena anda orang yang sangat hebat dan dimuliakan.”

Ikrimah berkata:

اِلْتَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ جَهْلٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِيْ أَنْ أَقُوْلَ لَكَ: {أَوْلَى لَكَ فَأَوْلى} [القيامة: 34] فَقَالَ: بِأَيِّ شَيْئٍ تُهَدِّدُنِيْ! وَاللهِ مَا تَسْتَطِيْعُ أَنْتَ وَلاَ رَبُّكَ أَنْ تَفْعَلاَ بِيْ شَيْئاً، إِنِّيْ لَمِنْ أَعَزِّ هَذَا اْلوَادِي وَأَكْرَمِهِ عَلَى قَوْمِهِ، فَقَتَلَهُ اللهُ يَوْمَ بَدْرٍ وَأَذَلَّهُ.

”Nabi SAW berjumpa dengan Abu Jahal. Maka Nabi SAW berkata kepadanya: ’Allah SWT menyuruh saya untuk mengatakan kepadamu: Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu (QS. Al-Qiyamah: 34)’. Abu Jahal pun berkata: ’Kamu mengancam saya dengan apa wahai Muhammad? Demi Allah! Kamu dan Tuhanmu tidak akan mampu memperbuat apa pun terhadapku. Sesungguhnya saya adalah orang yang paling perkasa dan paling mulia atas kaumnya di dataran ini’. Maka Allah SWT membunuh dan menghinakannya pada saat perang Badar.”

Kemudian turunlah ayat di bawah ini:

{إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ} [الدخان: 50]

 “Sesungguhnya ini adalah azab yang dahulu kamu selalu meragu-ragukannya.” (QS. Ad-Dukhan: 50)

Maksudnya: Siksaan ini adalah perkara yang dahulu kalian ragukan sewaktu hidup di dunia. Maka nikmatilah hari ini.

 


[1] Ini adalah ucapan Abdullah bin Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, dan lainnya.

[2] HR. At-Tirmidzi, no. 2783 dan Ahmad, no. 9099, At-Tirmidzi berkata: Hasan sahih gharib.

[3] HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnad

[4] Mukhtashar tafsir Ibni Katsir, jilid 2 hlm. 535

[5] HR. Al-Bukhari.

[6] Ucapan ini merupakan ejekan baginya. (pen.)

[7] Al-Bahr Al-Muhith, 8/39

[8] Nama makanan khas orang Arab.

[9] Tafsir Al-Qurthubi, 6/149

 

 

SUMBER: misteri kedahsyatan Neraka. terbitan: Sukses publishing Bekasi