CARA BANGKIT MENUJU RAKAAT KEDUA ATAU KETIGA DALAM SHALAT

Assalamu ‘alaykum warohmatullohi wabarokaatuh

 Mana yang lebih kuat dalilnya posisi telapak tangan sewaktu bangkit ke rakaat berikutnya,  apakah telapak tangan dikepalkan kemudian ditekankan ke tanah atau telapak tangan cukup ditekankan saja ke tanah tanpa perlu di dikepalkan?

Wassalamu ‘alaykum warohmatullohi wabarokaatuh

***

Wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarohkatuh,

Karena manhaj Salaf itu intinya ‘Ittiba kepada Nabi Sholallohu’alaihi wa Sallam
maka segala macam ibadah harus disandarkan kepada beliau Sholallohu’alaihi wa Sa
lam, dalam hal ini termasuk saat bangkit dari duduk ke rakaat berikutnya.
artikel di bawah mudah-mudahan bisa membantu pemahaman antum;

Melakukan ‘Ajn ketika berdiri ke rakaat berikutnya.

Makna ‘Ajn

Berkata Ibnu Atsir setelah menyebutkan hadits Ibnu Umar: “Rasulullah melakukan
‘ajn didalam sholatnya”, yaitu bertelekan dengan kedua tangannya jika berdiri
sebagaimana yg dilakukan oleh orang yang membuat adonan. (an Niihayah 3/188)

Berkata Abu Musa al Madini setelah menyebutkan hadits Ibnu Umar: “Yaitu
bertelekan dengan kedua tangannya ketika berdiri dan meletakkan tangannya di
atas bumi sebagaimana orang yang membuat adonan.” (al Majmu al Mughits 2/408)

Berkata Ibnu Mandhur : maknanya orang yang bertelekan di atas bumi dengan (menggenggam) adalah mengepalkan dan menekankannya jika hendak bangkit baik krn tua maupun gemuk.

jadi maknanya adalah: mengepalkan telapak, tangan juga bermakna memukulkannya dengan menyatukan dua telapak tangan. (ash-Shahah 3/1198)

Dalil tentang ‘Ajn
Riwayat Abu Ishaq al Harbi: “Berkata kepada kami Ubaidillah bin Umar, berkata
kepada kami Yunus bin Bakir, dari al Haitsami dari ‘Athiyah bin Qais dari al
Azraq bin Qais: “Saya melihat Ibnu Umar melakukan ‘ajn dalam sholatnya ketika
bangkit berdiri, saya bertanya kepadanya, maka beliau menjawab: ‘Saya melihat
Rasulullah shallallahu’alaihiwasslam melakukannya.'” (Gharibul Hadits (2/525).
Berkata al Albani: “Sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh Baihaqi yang semakna
dengan itu (2/135) dengan sanad yang shahih.”)

Hadits tersebut memiliki penguat yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari jalan Hamad
bin Salamah dari al Azraq bin Qais, beliau berkata: “Saya melihat Ibnu Umar jika
berdiri setelah dua rakaat bertelekan diatas bumi dengan tangannya. Saya
bertanya kepada anaknya dan kawan-kawan duduknya, barangkali beliau melakukannya
karena ketuaan? Mereka menjawab: ‘Tidak, tetapi demikianlah keadaannya.'” (as
Sunanul Kubra (2/135). Berkata al Albani: “Sanad hadits ini jayyid (baik) dan
rawi-rawinya terpercaya (tsiqat)).

Hadits ini dikeluarkan dalam shahih Bukhari dengan lafadz: “…jika bangkit
mengangkat kepalanya dari sujud kedua beliau duduk bertelekan ke bumi kemudian
berdiri.” (Hr. Bukhari (kitabul Adzan – Bab kaifa ya’tamidu ‘alal ardli idza
qama – 1/303)

(Sunanun Mahjuuratun, Anis bin Ahmad binThahir, “Sunnah-sunnah dlm Sholat yg
Ditinggalkan”, Abu Hasna, Bahrul ‘Ulum, Bandung)

Bangkit dari sujud

DALIL AJN ( MENGEPAL )SAAT BANGKIT Menuju Rokaat berikutnya
Bangkit menuju roka’at berikutnya, bertumpu dengan tangan dikepal

Pertanyaan : “Tolong jelaskan dalil yang menyebutkan bahwa saat bangkit menuju
roka’at berikutnya kita bertumpu pada lantai dengan kedua tangan dikepalkan!”

Jawab: Pertanyaan ini mengandung dua permasalahan.

Segi permasalahan pertama : “Tentang betumpu dengan kedua tangan pada lantai.
“Ini berdasarkan dalil:

“Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, beliau duduk dan
bertumpu pada bumi (lantai) kemudian berdiri”

Hadits ini shohih riwayat Al Imam Al Bukhori dalam Shahihnya ; Kitab : Al Adzan,
Bab Kaifa ya’tamidu ‘alal ardhi idza qoma minar rok’ah, no 781 Juga An Nasai
meriwayatkan hadits ini dalam Sunan beliau, Jilid 1, Juz 2 hal, 234, Bab Al
I’timad ‘alal ardhi ‘indan nuhudh, no 1141

Sebelumnya Al Imam Syafi’I juga telah meriwayatkan hadits ini sebagaimana
termaktub dalam Kitab Al Umm; Bab : Al Qiyam minal julus, Juz 1 hal 116

Asy Syafi’I berkata: “aku tidak menyukai seseorang bangkit tanpa bertumpu, karena
sesungguhnya telah diriwayatkan Nabi SAW  bahwa beliau bertumpu
pada tanah apabila beliau hendak bangkit.” [Al Umm, Juz 1, Hal 116]

Lebih jauh beliau berkata : Berdasarkan dalil ini kami menetapkan, maka kami memerintahkan orang yang berdiri dari sujud atau dari duduk didalam sholat, untuk bertumpu pada bumi dengan kedua tangan bersama-sama sebagai upaya mengikuti sunnah [ Al Umm, Juz 1, hal 117]

Segi permasalahan ke dua, tentang mengepalkan tangan saat bertumpu pada lantai.

Ini berdasarkan dalil : Al Azroq bin Qoys berkata : “Aku melihat Ibnu Umar melakukan ‘ajn didalam sholat, beliau bertumpu pada dua tangannya apabila hendak berdiri. Maka aku
bertanya kepada beliau. Beliau menjawab : “Aku melihat Rosululloh saw melakukannya.”

Hadits ini adalah riwayat Abu Ishaq Al Harbi. Menurut Syaikh Al Albani sanad
hadits ini shalih (baik). [Lihat Tamaamul minnah, hal 196 dan Sifat Sholat Nabi
saw , hal 155]

Demikianlah dalam riwayat di atas disebutkan bahwa Ibnu Umar RA
melakukan ‘ajn didalam sholat.

Apa makna ‘ajn ? Dalam Kamus Lisanul ‘Arob dijelaskan :

Artinya : “Ajanasy syay-a (seseorang melakukan ‘ajn terhadap sesuatu) – bentuk
fi’il mudhori’nya : ya’jinu sedang bentuk masdharnya ‘ajn – berarti : orang itu
bertumpu padanya sambil mengepal-kannya dan meremasnya. Sedang Al ‘aajin
ialah seorang laki-laki yang bertumpu pada bumi dengan mengepal apabila hendak
bangkit berdiri, karena usia lanjut atau kegemukan.

Barangkali terbetik dalam benak kita : Jika demikian maknanya, maka mungkin saja
baik Rosululloh saw maupun Ibnu Umar RA melakukan hal tersebut karena faktor usia lanjut atau kegemukan. Sebuah pertanyaan yang logis dan juga selaras dengan makna kebahasaan sebagaimana dijelaskan dalam kamus di atas. Namun demikian, di dalam Sunan Al Baihaqi Al Kubro; Juz 2 hal 135, no 2632 ada tambahan keterangan yang menepis hal itu. Bahwa ternyata Ibnu Umar melakukan ‘ajn bukanlah karena faktor usia lanjut ataupun karena kegemukan, melainkan karena memang demikianlah semestinya dilakukan orang didalam sholat.

Berikut petikan riwayat Albaihaqi :

Dari Al Azroq bin Qoys, beliau berkata ; Aku melihat Ibnu Umar apabila hendak
berdiri dari dua roka’at, beliau bertumpu pada bumi dengan kedua tangannya. Maka
aku bertanya pada anaknya dan orang yang duduk di majelisnya, “Barangkali beliau
melakukan demikian karena usia lanjut ?” Mereka menjawab : Tidak, tapi memang
demikian adanya.

Riwayat ini menurut Syaikh Al Albani sanadnya Jayyid/ Shahih [lihat Tamaamul
minnah, hal 196 dan Sifat Sholat Nabi SAW, hal 155]

Lebih lanjut Al Baihaqi menuturkan :

Dan telah diriwayatkan kepada kami dari Nafi dari Ibnu Umar sesungguhnya beliau
bertumpu pada kedua tangannya apabila hendak bangkit, dan demikian pula Al Hasan
dan bukan satu orang saja dari kalangan tabi’in yang melakukan.

Untuk kajian lebih detail dipersilahkan membaca menela’ah Kitab Tamaamul Minnah
hal 196 – 207, beserta rujukan lain yang diisyratkan Syaikh Al Albani didalam
Kitab tersebut.

Wallahu a’alam.

Diambil dari buku : “Membedah Kitab Shifat Sholat Nabi SAW Karya
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani” ( Penerbit : Maktabah Iqomatul Hujjah)

Gambar