Bilangan rakaat tarawih

 

Pertanyaan (9036): Saya bertanya tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Ia sebelas rakaat atau dua puluh rakaat? Karena masalah ini sangat sensitif di Emirat Arab. Orang yang mengerjakan sebelas rakaat memperolok orang yang shalat dua puluh rakaat. Dan sebaliknya juga demikian. Akhirnya perkara ini menjadi fitnah. Bukankah yang Sunnah adalah mengerjakan shalat tarawih sebanyak sebelas rakaat. Tetapi mengapa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menyalahi Sunnah Nabi SAW? Mengapa orang-orang mengerjakan dua puluh rakaat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

 

Jawab: Segala puji hanya milik Allah SWT semata…

Kami tidak menganggap baik jika seorang muslim menggeluti permasalahan-permasalahan yang sifatnya ijtihad di antara ulama’ dengan sensitif seperti ini, sehingga menyebabkan terjadinya perpecahan dan fitnah di antara kaum muslimin.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

“وَيُؤْسِفُنَا كَثِيْراً؛ أَنْ نَجِدَ فِي اْلأُمَّةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ فِئةً تَخْتَلِفُ فِيْ أُمُوْرٍ يَسْوُغُ فِيْهَا الْخِلاَفُ، فَتَجْعَلُ الْخِلاَفَ فِيْهَا سَبَباً لاِخْتِلاَفِ الْقُلُوْبِ، فَالْخِلاَفُ فِي اْلأُمَّةِ مَوْجُوْدٌ فِيْ عَهْدِ الصَّحاَبةَِ، وَمَعَ ذَلِكَ بَقِيَتْ قُلُوْبُهُمْ مُتَّفِقَةٌ، فَالْوَاجِبُ عَلَى الشَّبَابِ خَاصَّةً، وَعَلَى كُلِّ الْمُسْتَقِيْمِيْنَ أَنْ يَكُوْنُوْا يَداً وَاحِدَةً، وَمَظْهَراً وَاحِداً؛ ِلأنَّ لَهُمْ أَعْدَاءً يَتَربَّصُوْنَ بِهِمُ الدَّوَائِرَ” [الشرح الممتع: 4/225]

“Sungguh sangat menyedihkan ketika kita mendapati dalam tubuh umat Islam, satu kelompok yang berselisih pada perkara-perkara yang boleh khilaf (berselisih) padanya. Kelompok tersebut menjadikan khilaf itu sebagai penyebab perpecahan hati. Padahal khilaf pada umat ini sudah ada sejak zaman sahabat. Tetapi hati mereka tetap bersepakat. Maka yang wajib atas para pemuda khususnya dan orang-orang yang berkomitmen, untuk bersatu dalam satu tangan dan satu tubuh. Karena mereka mempunyai musuh yang senantiasa mencari kelalaian mereka.” (Asy-Syarh Al-Mumti’: 4/225)

Dalam masalah ini ada dua kelompok yang terlampau berlebihan. Kelompok pertama: Kelompok yang mengingkari lebih dari sebelas rakaat dan membid’ahkan perbuatan tersebut. Kelompok kedua: Kelompok yang mengingkari orang-orang yang hanya mengerjakan sebelas rakaat. Mereka berkata: Orang-orang yang hanya mengerjakan sebelas rakaat, berarti menyalahi ijma’ para ulama’.

Marilah kita mendengar pengarahan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah. Beliau mengatakan:

Di sini kita mesti menegaskan: Tidak patut bagi siapapun untuk terlampau berlebihan (mutasyaddid) atau malah bertindak lalai (mutasahil) dalam masalah tarawih. Sebagian orang berlebihan, sekiranya menetapi Sunnah hanya pada jumlah saja. Mereka mengatakan: “Kita tidak boleh menambah dari jumlah yang disebutkan oleh Sunnah.” Kemudian mengingkari sangat keras, siapapun yang mengerjakan lebih dari sebelas rakaat. Bahkan mengatakan pelaku tarawih lebih dari sebelas rakaat adalah berdosa dan berbuat maksiat kepada Allah.

Tentu tidak diragukan bahwa keyakinan seperti ini keliru. Bagaimana seseorang menjadi berdosa dan bermaksiat, padahal ketika Rasulullah r ditanya tentang tata cara shalat malam, beliau menjawab: Shalat malam adalah dua rakaat, dua rakaat. Dalilnya:

((كَيْفَ صَلاَةُ اللَّيْلِ؟ فَقَالَ: مَثْنَى مَثْنَى)) [رواه البخاري: 473]

“Bagaimana cara shalat malam itu? Beliau menjawab: Dua rakaat, dua rakaat.” (HR. Al-Bukhari, no. 473)

Beliau sama sekali tidak membatasi shalat malam dengan jumlah tertentu. Dan kita tahu, orang yang bertanya tentang shalat malam ini, tidak mengetahui jumlahnya. Karena orang yang tidak tahu tata cara shalat malam, tentu lebih tidak tahu lagi tentang jumlahnya. Apalagi orang tersebut bukan termasuk sahabat-sahabat yang biasa melayani Nabi SAW, hingga kita mengatakan dia mengetahui apa yang terjadi dalam rumah beliau.

Jika Nabi SAW menjelaskan tata cara shalat kepadanya tanpa membatasi jumlah tertentu, maka kita tahu bahwa dalam masalah ini ada kelapangan. Sehingga seseorang boleh mengerjakan seratus rakaat dengan satu kali witir.

Adapun sabda Nabi SAW:

((صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّيْ)) [رواه البخاري: 605]

“Kerjakan shalat sebagaimana kalian melihatku mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari, no. 605)

Hadis ini tidak pada keumumannya, bahkan menurut mereka[1] sekalipun. Karena itu mereka tidak mewajibkan seseorang untuk mengerjakan witir sekali dengan lima rakaat, sekali dengan tujuh rakaat, dan sekali dengan sembilan rakaat. Seandainya kita mengambil keumuman Hadis di atas, pasti kita mengatakan: Anda wajib berwitir sekali dengan lima rakaat. Sekali dengan tujuh rakaat. Dan sekali dengan sembilan rakaat secara langsung (tanpa berhenti dengan satu salam).

Sesungguhnya maksud Hadis: “Kerjakan shalat sebagaimana kalian melihatku mengerjakannya”, adalah pada tata cara. Adapun tentang bilangan, kita tidak disuruh mengikutinya kecuali pembatasan jumlah yang sudah ditetapkan oleh dalil.

Yang jelas, seseorang tidak boleh memberikan batasan tertentu kepada kaum muslimin dalam perkara yang masih lapang. Sehingga kami mendapati dari beberapa ikhwah yang berlebihan dalam hal ini, berani membid’ahkan para imam yang menambah lebih dari sebelas rakaat. Akhirnya mereka keluar dari Masjid dan kehilangan pahala yang dikatakan oleh Nabi SAW dalam Hadis berikut:

((مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ)) [رواه الترمذي: 806 وصححه الألباني في إرواء الغليل: 447]

“Barangsiapa mengerjakan qiyamullail bersama imam hingga selesai maka dicatat bahwa dirinya telah melakukan qiyamullail semalam penuh.” (HR. At-Tirmidzi, no. 806 dan disahihkan Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil, no. 447)

Bahkan terkadang mereka duduk menunggu ketika sudah selesai sepuluh rakaat, sehingga barisan shaf menjadi terputus karena duduk mereka. Bahkan kadang-kadang mereka mengobrol sehingga mengganggu orang-orang yang shalat.

Kami tidak meragukan bahwa mereka menghendaki kebaikan. Mereka juga berijtihad. Tetapi tidak setiap orang yang berijtihad adalah benar dalam ijtihadnya.

Sedangkan kelompok kedua: Adalah lawan dari kelompok pertama. Mereka mengingkari sangat keras orang-orang yang hanya mengerjakan sebelas rakaat. Mereka mengatakan: Anda telah keluar dari Ijma’ kaum muslimin. Karena Allah SWT telah berfirman:

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء: 115]

”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Karena orang-orang sebelum anda tidak mengetahui tarawih selain dua puluh tiga rakaat.

Kemudian kelompok ini sangat keras pengingkarannya terhadap orang-orang yang hanya mengerjakan sebelas rakaat. Kelompok kedua ini juga tidak benar. (Asy-Syarh Al-Mumti’, 4/73-75)

Dalil orang-orang yang mengatakan shalat tarawih tidak boleh lebih dari delapan rakaat adalah Hadis Abu Salamah bin Abdirrahman, dia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu anha:

كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا)) [رواه البخاري: 1909 ومسلم: 738]

“Bagaimana shalat yang dilakukan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan? Aisyah Radhiyallahu anha menjawab: Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan maupun selain Ramadhan tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat. Beliau mengerjakan shalat empat rakaat, kamu jangan tanya tentang betapa indah dan panjang shalatnya. Kemudian shalat lagi empat rakaat, kamu jangan tanya betapa indah dan panjang shalatnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat tiga rakaat.” (HR. Al-Bukhari, no. 1909 dan Muslim, no. 738)

Mereka mengatakan: Hadis ini menunjukkan rutinitas yang dilakukan Rasulullah SAW dalam shalat malam. Baik pada bulan Ramadhan maupun selain Ramadhan.

Tetapi ketika mereka menyimpulkan dari Hadis di atas bahwa inilah yang dilakukan Nabi SAW, maka para ulama’ membantah: Perbuatan yang dilakukan Nabi SAW tidak selalu menjadi perkara yang wajib.

Di antara dalil yang jelas-jelas menegaskan bahwa shalat malam, -di antaranya adalah shalat tarawih- tidak terbatas dengan jumlah tertentu, adalah Hadis Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka beliau menjawab:

((صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى)) [رواه البخاري: 946 ومسلم: 749]

“Shalat malam dua rakaat, dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian takut kedatangan subuh, hendaknya mengerjakan satu rakaat, untuk mengganjilkan shalat yang telah dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari, no. 946 dan Muslim, no. 749)

Ketika melihat pendapat para ulama’ dalam madzhab-madzhab yang diakui, tentu menjadi jelas bagi kita bahwa masalah ini sangat lapang. Dan tidak masalah jika seseorang menambahkan lebih dari sebelas rakaat pada shalat malamnya.

As-Sarkhasi, salah seorang imam madzhab Hanafi, berkata:

“فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا” [المبسوط، 2/145]

“Menurut madzhab kami, shalat malam ada dua puluh rakaat selain witir.” (Al-Mabsuth, 2/145)

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

“وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِيهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً، وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيُّ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَّةٌ وَثَلَاثُونَ” [المغني: 1/457]

“Pendapat yang dipilih Abu Abdillah (Imam Ahmad) Rahimahullah pada shalat tarawih adalah dua puluh rakaat. Pendapat seperti ini juga dikatakan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. Adapun Malik maka mengatakan: Shalat tarawih adalah tiga puluh enam rakaat.” (Al-Mughni, 1/457)

An-Nawawi Rahimahullah berkata:

“فَصَلاَةُ التَّرَاوِيْح سُنَّةٌ بِاِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ، وَمَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ، وَتَجُوْزُ مُنْفَرِدًا وَجَمَاعَةً” [المجموع: 4/31]

”Shalat tarawih adalah sunnat menurut kesepakatan para ulama’. Madzhab kami shalat tarawih ada dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam. Ia boleh dikerjakan sendirian atau dengan berjamaah.” (Al-Majmu’, 4/31)

Ini adalah madzhab imam empat dalam bilangan rakaat shalat tarawih. Semuanya mengatakan, shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat. Barangkali yang menyebabkan mereka menambah lebih dari sebelas rakaat adalah:

(1) Mereka melihat Hadis Aisyah Radhiyallahu anha tidak menunjukkan pembatasan dengan jumlah sebelas rakaat.

(2) Tambahan lebih dari sebelas rakaat, diriwayatkan dari banyak ulama’ salaf. (Lihat: Al-Mughni, 2/604 dan Al-Majmu’: 4/32)

(3) Memang Nabi r mengerjakan shalat sebelas rakaat. Tetapi beliau sangat memanjangkan bacaannya sehingga menghabiskan seluruh waktu malam. Bahkan pada salah satu malam yang Rasulullah SAW mengerjakan shalat tarawih bersama para sahabat, beliau tidak selesai dari shalat tarawih kecuali sebelum terbit fajar. Sampai para sahabat kawatir mereka tidak sempat sahur. (HR. An-Nasa’i, no. 1364, Abu Dawud, no. 1375, Ibnu Majah, no. 1327, dan disahihkan Al-Albani)

Para sahabat sangat senang mengerjakan shalat tarawih di belakang Nabi SAW, tetapi ketika melakukan sendiri, mereka tidak memanjangkan bacaannya sebagaimana Nabi SAW. Karena itu para ulama’ melihat jika imam memanjangkan shalat hingga batasan ini, tentu hal itu sangat memberatkan makmum. Bahkan membuat mereka menghindari shalat tarawih. Sehingga mereka memilih agar imam meringankan bacaan shalat tetapi menambah jumlah rakaat.

Kesimpulannya: Barangsiapa mengerjakan shalat sebanyak sebelas rakaat persis sifat yang dilakukan Nabi SAW maka dia telah bertindak bagus dan mengamalkan sunnah. Dan barangsiapa meringankan bacaan, kemudian menambah jumlah rakaat maka ia telah bertindak bagus pula. Kita tidak perlu mengingkari siapapun yang mengerjakan salah satu dari perbuatan di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: Jika shalat tarawih dilakukan sesuai madzhab Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan Ahmad sebanyak dua puluh rakaat, atau seperti madzhab Malik sebanyak tiga puluh enam rakaat, atau sebanyak tiga belas, atau sebelas rakaat, maka seseorang telah mengerjakan yang benar. Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Imam Ahmad. Karena tidak ada dalil khusus yang menentukan jumlah rakaat. Sehingga banyak dan sedikitnya rakaat shalat tarawih, tergantung kepada panjang dan pendeknya berdiri ketika membaca surat. (Al-Ikhtiyarat, hlm. 64)

As-Suyuthi berkata: Yang disebutkan dalam Hadis-Hadis sahih dan hasan, adalah anjuran untuk mengerjakan qiyamullail Ramadhan tanpa membatasinya dengan bilangan rakaat tertentu. Tetapi tidak pernah ada dalil bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat sebanyak dua puluh rakaat. Riwayat yang ada, beliau hanya mengerjakan shalat tarawih selama beberapa malam tanpa menyebutkan bilangannya. Kemudian pada malam keempat beliau tidak keluar rumah karena takut shalat tarawih diwajibkan atas kaum muslimin, sehingga mereka tidak mampu mengerjakannya. Ibnu Hajar Al-Haitami berkata: Tidak ada Hadis sahih yang menunjukkan Nabi SAW mengerjakan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Adapun riwayat yang menyebutkan beliau pernah shalat dua puluh rakaat, itu riwayat yang sangat lemah. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 27/142-145)

Karena itu wahai saudaraku yang bertanya! Jangan terkejut dengan seseorang yang mengerjakan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Karena sebelum mereka, sudah banyak para imam yang mengerjakannya. Ini sudah diwarisi dari generasi ke genarasi. Dan pada masing-masing pendapat ada kebaikannya. Allahu a’lam.

 Untuk makalah yang arab silakan merujuk ke website aslinya: http://islamqa.info/ar/ref/9036


[1] Yakni kelompok pertama yang membatasi shalat tarawih dengan sebelas rakaat saja. (pen.)

Tulisan ini dipublikasikan di ISLAM, pertanyaan/jawaban dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s