HUKUM IHDAAD (BERKABUNG) ATAS KEMATIAN SUAMI

Saudariku… akan saya terangkan kepada anda salah satu hukum dalam syariat ini. Hukum itu adalah Ihdaad atau berkabung atas kematian suami.

Al-Ihdaad menurut bahasa adalah menghalangi (Al-Man`u). Sedangkan menurut syariat adalah: Meninggalkan memakai perhiasan dan parfum-parfuman.

Karena itu jika suami anda meninggal dunia, anda wajib ber-Ihdaad selama empat bulan sepuluh hari. Dalilnya adalah firman Allah di bawah ini:

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} [البقرة: 234]

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[1] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234)

Dan dari Zainab binti Abi Salamah radhiyallahu anha, dia mendengar Ummul Mukminin, Ummu Salamah radhiyallahu anha berkata:

((جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ بِنْتِيْ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا أَفَنَكْحِلُهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ، مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثاً، كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ: لاَ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّماَ هِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا))

“Datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW. Wanita itu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Puteri saya ditinggal mati suaminya. Tetapi dia menderita rasa sakit pada matanya. Bolehkah kami memasangkan celak pada matanya?’. Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak’. Wanita itu menanyakan hal tersebut sebanyak dua atau tiga kali. Pada masing-masingnya Rasulullah SAW menjawab: ‘Tidak’. Kemudian beliau bersabda: ‘Sesungguhnya masa iddahnya itu empat bulan sepuluh hari (tidak kurang dari itu)’.”[2]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

Para ulama berijma` (bersepakat) bahwa masa iddah[3] wanita Muslimah merdeka yang tidak hamil, dari kematian suaminya adalah empat bulan sepuluh hari. Baik ia sudah disetubuhi atau belum disetubuhi. Sama saja apakah dia wanita dewasa yang sudah baligh atau masih kecil belum baligh. Hal itu sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} [البقرة: 234]

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[4] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234)

Juga sesuai dengan sabda Nabi SAW:

((لاَ تَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تَحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ عَلَىْ زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا))

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, untuk berkabung lebih dari tiga hari atas kematian mayit, kecuali atas kematian suami selama empat bulan sepuluh hari.”[5]

Maka setelah ayat dan hadis di atas, apakah yang bakal diucapkan seorang wanita yang menjabat sebagai perdana menteri, wakil perdana menteri, direktur perusahaan, kepala unit, pegawai, penyanyi, dokter, perawat, dan lain sebagainya?!

Apakah anda akan meninggalkan pekerjaan dan duduk menunggu selama empat bulan sepuluh hari demi masa iddah ini? Dan apakah kementerian akan mengizinkan anda untuk itu? Seandainya kementerian mengizinkan hal itu, apakah yang bakal dilakukan sang perdana menteri wanita atau wakilnya terhadap rapat-rapat, bepergian kesana kemari, dan keputusan-keputusan, yang bisa jadi seseorang akan berkata kepadanya: Kami akan mengirim berkas-berkas keputusan ini kepada anda untuk anda tanda tangani!

Saudariku…

Apakah seperti ini lajur seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, yaitu dengan menyibukkan diri pada hal-hal seperti ini. Dan kebanyakan negara-negara Arab maupun Islam, tidak mengizinkan bagi pegawai wanita mana pun untuk berkabung atas kematian suaminya melainkan hanya tiga hari saja.

Saya juga melihat banyak wanita yang memakai pakaian hitam-hitam di departemen-departemen atau instalasi-instalasi. Saya bertanya kepada mereka mengapa memakai pakaian hitam-hitam itu? Mereka menjawab, karena suami mereka telah meninggal dunia.

Saya pun bertanya: “Manakah masa iddah kalian?”

Mereka menjawab: “Iddah apa maksudnya?”

Saya menjawab: “Masa iddah untuk menghormati suami yang meninggal, yaitu empat bulan sepuluh hari.”

Mereka berkata: “Apa?! Kami duduk di rumah selama empat bulan sepuluh hari??!! Ini adalah penjara kalau begitu.”

Bahkan saya juga mencium bau parfum yang sangat menyengat, ditambah dengan gaya sisiran rambut mereka yang sangat menggoda.

Saudariku… ini adalah modernisasi ala Eropa dan peradaban ala Syetan yang sudah merasuki para wanita Muslimah. Mana mungkin seorang wanita Muslimah yang baik-baik bisa terjebak dalam jurang kehinaan dan penentangan terhadap hukum-hukum syariat ini.

Ini semua tidak lain, kecuali akibat meninggalkan Adz-Dzikru Al-Hakim (Al-Qur`an) dan berjalan pada jalan yang tidak lurus. Dan kami berkata kepada jam`iyyat nisaa`iyyah (perkumpulan-perkumpulan kaum wanita) di berbagai belahan dunia Islam yang mengajak wanita agar keluar dari rumah: “Takutlah kepada Allah pada puteri-puteri kaum Muslimin dan isteri-isteri mereka.”


[1] Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

[2] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[3] Yakni masa menunggu setelah ditinggal mati suami. Sebagai bentuk penghormatan yang diberikan Islam kepada mantan suami yang meninggal.

[4] Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

[5] HR. Abu Dawud, no. 2301, Al-Albani berkata: Sahih

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di fiqih dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s